JAKARTA - Pemulihan wilayah terdampak bencana di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, kini bergerak dengan pendekatan terukur dan berlapis agar aktivitas warga bisa kembali normal. Kementerian Pekerjaan Umum bersama PT Nindya Karya mengambil peran strategis dengan mengerahkan sumber daya teknis dan manusia secara simultan.
Langkah ini bukan hanya respons darurat, tetapi juga bagian dari perencanaan pemulihan jangka menengah yang disusun berdasarkan kebutuhan lapangan. Sejak awal pengerahan, fokus diarahkan pada titik-titik yang paling berdampak terhadap akses dan fasilitas publik.
Kementerian Pekerjaan Umum (PU) dengan PT Nindya Karya mengerahkan alat berat beserta personel untuk melakukan pemulihan pascabencana di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara. Kegiatan tersebut dilakukan secara paralel dengan koordinasi lintas wilayah di kawasan Tapanuli.
“Kami sudah turun melakukan pemulihan di delapan titik di Kecamatan Tukka ini dengan total 290 titik di seluruh Tapanuli, baik Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan,” kata Pelaksana Lapangan Nindya Karya Moch Wahyu Salman Alfarisi di Jakarta, Rabu. Pernyataan tersebut menegaskan skala pekerjaan yang melibatkan banyak lokasi dan membutuhkan konsistensi pengerjaan.
Cakupan wilayah kerja yang luas menjadi tantangan tersendiri dalam memastikan seluruh titik tertangani sesuai prioritas. Oleh karena itu, pemetaan kondisi lapangan dilakukan secara berkelanjutan agar pengerahan alat dan personel tetap efektif.
Distribusi Alat Berat dan Penanganan Material Bencana
Khusus di Kecamatan Tukka, pihaknya mengerahkan 10 alat berat dan 20 dump truk untuk membersihkan material banjir dan longsor, baik kayu, pasir, maupun lumpur. Penggunaan alat berat tersebut disesuaikan dengan karakter material yang menutup akses dan area permukiman.
Pembersihan material menjadi tahap awal yang krusial karena menentukan kelancaran tahapan selanjutnya. Tanpa akses yang terbuka, proses renovasi dan rekonstruksi tidak dapat dilakukan secara optimal.
Menurut Wahyu, dalam program penanganan bencana itu, pihaknya melakukan dalam tiga tahapan, yakni pembersihan, renovasi, dan rekonstruksi. Pembagian tahapan ini bertujuan agar pekerjaan berjalan sistematis dan hasilnya berkelanjutan.
Setiap tahapan memiliki target dan indikator capaian yang berbeda sesuai kondisi lapangan. Dengan pendekatan ini, pekerjaan tidak hanya bersifat sementara tetapi juga memperhitungkan fungsi jangka panjang.
Pada fase pembersihan, fokus utama diarahkan pada area yang terdampak paling parah oleh banjir dan longsor. Material yang menumpuk dibersihkan agar tidak menimbulkan risiko lanjutan bagi masyarakat.
Tahap berikutnya akan bergerak ke renovasi fasilitas yang rusak ringan hingga sedang. Setelah itu, rekonstruksi dilakukan pada bangunan yang membutuhkan penanganan struktural lebih mendalam.
Fokus Fasilitas Umum dan Kebutuhan Warga
Dia mengatakan untuk saat ini, pihaknya masih fokus melakukan penanganan fasilitas umum, di antaranya sekolah, puskesmas, kantor kecamatan, dan lainnya. Fasilitas tersebut diprioritaskan karena berkaitan langsung dengan pelayanan dasar masyarakat.
Keberfungsian fasilitas umum dinilai penting untuk memulihkan aktivitas sosial dan ekonomi warga. Tanpa sekolah dan layanan kesehatan yang berjalan, proses pemulihan akan berjalan lebih lambat.
“Kami sudah memiliki daftar kawasan yang akan dibersihkan dan kami terus bekerja setiap harinya untuk membantu masyarakat setempat,” ujar Wahyu. Pernyataan ini menunjukkan bahwa pekerjaan dilakukan secara konsisten tanpa jeda panjang.
Daftar kawasan tersebut disusun berdasarkan tingkat kerusakan dan urgensi kebutuhan warga. Dengan daftar ini, pengerjaan dapat dilakukan secara berurutan dan terkontrol.
Saat ini, sambung dia, pihaknya fokus melakukan pembersihan kawasan di samping SD Negeri 1B Tukka yang masih terendam material banjir. Area tersebut menjadi salah satu titik yang dinilai menghambat aktivitas pendidikan.
“Kami mengerahkan satu alat berat dan dibantu personel TNI untuk mengeluarkan material lumpur,” ungkap Wahyu. Kolaborasi dengan unsur TNI mempercepat proses pembersihan di lapangan.
Akses Terbuka dan Tahapan Lanjutan Pemulihan
Pemulihan tersebut, kata dia, bertujuan membersihkan kawasan itu dari material longsor dan mendorong agar terbukanya akses sehingga bangunan-bangunan yang terdampak dapat kembali dimanfaatkan. Akses yang terbuka memungkinkan warga mulai menggunakan kembali fasilitas yang sebelumnya terisolasi.
Pembukaan akses juga menjadi prasyarat penting bagi distribusi bantuan dan perbaikan lanjutan. Tanpa jalur yang memadai, proses pemulihan akan terhambat secara keseluruhan.
“Jika ini selesai, maka kami akan bergeser ke lokasi yang lain,” tutur Wahyu. Pernyataan tersebut menandakan bahwa pengerjaan dilakukan secara bertahap dan berpindah sesuai target.
Perpindahan lokasi dilakukan setelah satu titik dinyatakan cukup aman dan fungsional. Dengan cara ini, sumber daya dapat dimanfaatkan secara efisien untuk menjangkau lebih banyak area terdampak.
Pendekatan bertahap ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat dalam waktu relatif singkat. Setiap lokasi yang selesai ditangani menjadi dasar untuk melanjutkan pekerjaan ke titik berikutnya.
Keseluruhan proses pemulihan di Kecamatan Tukka menjadi bagian dari upaya lebih luas di kawasan Tapanuli. Sinergi antara pemerintah dan pelaksana lapangan diharapkan mempercepat kembalinya kehidupan masyarakat ke kondisi normal.